Sistem Pengendalian Hama dan Penyakit Pada Tanaman Sawit (Pemantauan Dini)

    Pengendalian hama dan penyakit hakikatnya adalah mengendalikan suatu kehidupan, maka dari itu konsep pengendalian dimulai dari mengenal siklus hidup hama/penyakit itu sendiri. Pengetahuan terhadap bagian siklus hama/penyakit yang paling rentan / lemah pada proses hidupnya sangat berguna dalam pengendalian yang efektif.

    Pemilihan tehnik pengendalian hama penyakit dapat dilakukan secara hayati, mekani/fisik, kultur teknik atau kimia dan pengendalian yang efektif dilakukan sesuai siklus hidup yang paling rentan pada hama penyakit. Keberadaan hama penyakit dilapangan harus dideteksi secara dini, agar dapat kita lakukan pengendalian secara langsung sebelum terjadi ledakan hama, dengan ini maka harus dilakukan pemantauan kondisi hama dilapangan.

CARA PEMANTAUAN HAMA
    Ledakan hama dan penyakit tidak terjadi secara tiba-tiba, hal tersebut dapat diketahui sebelum terjadinya ledakan dengan sistem pemantauan yang rutin.
Sistem pemantauan hama memiliki Fungsi :
a. Mengetahui keberadaan hama pada areal yang dipantau (Sampel)
b. Menentukan jenis, stadia atau instar hama yang menyerang serta kepadatan populasinya.
c. Memetakan lokasi serangan hama
d. Hasil pemantauan di buat sejauh mungkin, agar dapat diketahui spot-spot serangan sehingga mewakili sampel areal yang ada.
e. Mengetahui keberadaan musuh alami
f. mengetahui kondisi tanaman terserang.

Sistem Sensus Tidak Tetap
Sistem sensus tidak tetap meliputi deteksi dan penghitungan hama pada baris/titik sensus yang merupakan jaringan yang meliputi seluruh kebun. Sistem ini bermanfaat untuk memantau hama atau kelapa sawit, yaitu : 
a. Hama pemakan daun yaitu ulat api, ulat kantong dan ulat bulu.
b. Hama tikus
c. Hama Tirathaba

Cara Mendeteksi Hama Dengan Sistem Sensus
a. Sistem sensus ini mengikuti pola 10x10 (sampel di ambil setiap selang 10 pokok) serta penandaan dilakukan berdasarkan blok dibuat secara permanen.
b. Baris sensus (BS) digunakan untuk pemantauan hama tikus dan tirathaba, sedangkan titik sensus digunakan untuk memantau serangan hama pemakan daun.
c. Baris sensus pertama dimulai dari baris tanam ke empat dari pinggir jalan kemudian baris berikutnya diambil setiap 10 pokok setelahnya. jika pada batas tanam terakhir masih sisa 4 pokok lagi, maka pokok terakhir diambil kembali sebagai sampel.
d. Titik sensus pertama dimulai pada pokok pertama di pinggir jalan pada baris sensus, setelah itu dimulai kembali pada pokok ke 10 berikut pada baris sensus yang sama. titik sampel sensus diambil setiap 10 pokok, jika masih ada sisa pokok maka pokok terakhir diambil sebagai titik sensus.
e. Setiap titik sensus diambil sampe 3 pokok yaitu, 1 pokok pada titik sensus sementara 2 pokok lagi merupakan pokok yang berada di sampingnya.

Gambar diatas merupakan contoh pembuatan titik sensus pada kebun sawit yang kita tanam
hal yang utama ada pada areal tanam adalah pada tanda no 4/10
Angka no 4 merupakan BARIS SENSUS
Angka no 10 merupakan TITIK SENSUS

Hal yang harus diketahui bagi orang yang bertugas menyensus :
a. Mampu mengidentifikasi kerusakan tanaman karena hama pemakan daun, tikus dan tirathaba
b. Identifikasi jenis hama seperti ulat api, ulat kantong dan ulat bulu
c. Identifikasi berbaga stadia dalam siklus hidup hama, seperti telur, larva, kepompong dan stadia dewasa.
d. Membedakan hama yang sehat dan sakit/terparasit
e. Mengenal musuh alami hama

semoga cara menentukan sensus hama sebelu terjadi ledakan ini dapat membantu
Berikut Jenis - jenis Ulat Pemakan Daun



Berikut Siklus Hidup Ulat Pemakan Daun
Berikut Stadia Ulat Pemakan Daun





Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Masukkan Komentar di bawah